Readup

Pusat pendidikan tertua dan terlanggeng di Indonesia

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pusat pendidikan tertua dan terlanggeng di Indonesia

Universitas atau pusat pendidikan yang sangat besar pernah berdiri di Indonesia, tepatnya di Muarajambi. Dalam catatan cendekiawan Yi Jing, asal Tiongkok, Muarajambi disebutnya sebagai Shili Foshi.

Sejarahwan menduga pusat pendidikan tersebut tepatnya di komplek percandian Muarajambi, yang bukti-bukti fisiknya masih dapat disaksikan sekarang.

Dalam “Kiriman Catatan dari Laut Selatan Berdasarkan Tulisan-tulisan oleh Yi Jing” oleh Shinta Lee, Jimmy Chen dan Erina Tan (2018) diceritakan bahwa di kota Muarajambi yang berbenteng terdapat biksu Budha yang berjumlah ribuan yang bertekad belajar dan menjalankan kebajikan.

Para pelajar, menurut catatan Yi Jing, mempelajari semua pelajaran persis seperti yang ada di India, berikut tata cara dan upacara-upacara.

Jika seorang Tiongkok ingin mendaras ajaran Budha di India, Yi Jing merekomendasikan supaya pergi dulu ke Muarajambi selama satu atau dua tahun. Dalam buku “Nanhai” karya Yi Jing, setidaknya ada lima pelajaran di Muara Jambi, yakni: lima sains (pancavidya), logika (hetuvidya), tata bahasa dan kesusastraan (sabdavidya), ilmu pengobatan (cikitsavidya), seni dan kerajinan (silakarmasthanavidya), dan ilmu kebatinan (adhyatmavidya). Di samping itu, dipelajari pula cabang-cabang ilmu bahasa dan logika.

Cendekiawan Yi Jing (abad ke-7) pernah tiga kali mengunjungi Muaro Jambi sebelum menetap di Tiongkok. Kunjungan pertamanya selama 6 bulan untuk belajar bahasa Sanskerta, kedua selama 4 tahun (685-689) dan kembali lagi ke Shili Foshi selama 5 tahun (689-695) untuk belajar sutra.

Dalam kajian terhadap tulisan-tulisan Yi Jing, Shinta Lee dkk menemukan bahwa dia mendeskripsikan sejumlah hal menarik dalam buku Nanhai, terutama tentang kemakmuran Sriwijaya. Masyarakat biasanya mempersembahkan bunga teratai dari emas. Mereka juga menggunakan kendi-kendi dari emas.

Saat menggambarkan kunjungan utusan Sriwijaya ke Tiongkok, Yi Jing menyebutkan “Tetangga Emas” mengirim utusan ke istana. Sumatera juga disebutnya sebagai Pulau Emas (Jin Zhou), seraya menjelaskan bahwa emas bermotif teratai adalah hadiah yang sangat lumrah kala itu. Sebutan ini tak hanya berkonotasi positif sebagai bahasa persahabatan dua bangsa tetapi juga isyarat kekayaan material dan tingginya keadaban Nusantara kala itu.

Selain Yi Jing, tokoh terkenal sezaman yang pernah ke Muarajambi adalah Sakyakirti, salah satu di antara lima guru agama Budha terkemuka di masanya. Empat abad setelah kunjungan Yi Jing, Dipamkara Srijnana dari Benggala di abad ke-11 juga datang untuk belajar di Suvarnadwipa (Sriwijaya) selama 12 tahun.

Biksu penerjemah Danapala dan Shihu (tahun 1018) dari Swat (Sekarang Pakistan Barat) juga pernah tinggal selama beberapa waktu untuk belajar bahasa Sriwijaya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa paling tidak selama 4 abad, sejak abad ke-7 ketika Yi Jing tiba hingga 1025 ketika Dipamkara meninggalkan Sriwijaya, Indonesa sudah berdiri pusat pembelajaran tertua dan terlama. Belum pernah ada lembaga pendidikan setua itu sampai hari ini di Nusantara.

Kubu Prabowo nilai jargon wong cilik Jokowi hanya untuk komoditas politik
KPU harap anggaran pemilu dapat digunakan mulai Januari 2019
Demokrat nilai tuduhan Wiranto terkait oknum perusak salah dan terburu-buru
Farhat Abbas minta PSI dikeluarkan dari Tim Kampanye Nasional
PPP: Yang kaget kotak suara kardus mungkin tak hadir rapat
Rusia perkuat pasukan rudal dengan ratusan senjata baru
Mobile Legends rilis karakter hero baru
BRI beberkan dua cara hadapi fintech
Pelemahan rupiah dan sentimen dagang AS halangi pergerakan IHSG
Tiga permohonan maaf La Nyala ke Jokowi
Nasdem klaim TGB bergabung
PKB siap sumbang kubu Jokowi 25 juta suara
Ini kritik PDIP terhadap Kubu Jokowi
PKB akui Ma'ruf Amin benteng Jokowi dari tuduhan anti-Islam
Suku Yei Papua sambut “kado Natal” dari prajurit TNI
Fetching news ...