Utang menggunung Waskita Karya

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Utang menggunung Waskita Karya

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dikabarkan bakal menjual 18 ruas tol pada 2019 untuk menutup utang yang sudah mencapai lebih dari seratus triliun rupiah.

Waskita sendiri termasuk dalam sepuluh badan usaha milik negara (BUMN) yang memiliki utang terbesar. Nilai utang BUMN per Akhir Kuartal Ketiga 2018 Mencapai Rp5.271 Triliun

Utang Waskita pada kuartal ketiga 2018 mencapai Rp102 triliun. Angka tersebut naik dibandingkan utang perseroan pada akhir 2017 yang senilai Rp75,14 triliun. Angka itu naik 1.064 persen dari utang 2013 sebesar Rp6,45 triliun. Rata-rata pertumbuhan tahunan utang Waskita sebesar 87 persen.

Namun, sedikit kabar baiknya, aset Waskita juga meningkat dari Rp98 triliun pada akhir 2017 menjadi Rp129 triliun pada triwulan 2018.

Sayangnya, laba Waskita stagnan di angka Rp4 triliun baik pada akhir 2017 maupun kuartal ketiga 2018.

Pendapatan Waskita pada kuartal 2018 terkerek 26,98 persen dari Rp 28,53 triliun menjadi Rp 36,23 triliun.

Hingga akhir tahun, perseroan mengharapkan dapat menerima pembayaran dari proyek turnkey yang rampung senilai Rp15 triliun hingga Rp 20 triliun.

Saat ini Waskita sedang fokus menyelesaikan proyek infrastruktur senilai Rp101,76 triliun.

Selain untuk menutup utang, aksi korporasi ini dilakukan mengingat arah bisnis Waskita Karya yang bukan sebagai operator jalan tol.

"Waskita Karya itu membangun jalan tol itu bukan menjadi operator, tetapi sebagai developer," kilah Direktur Utama WSKT I Gusti Ngurah Putra usai rapat dengan DPR, Senin 3 Desember lalu.

Divestasi akan dilakukan secara bertahap mulai tahun depan. Hal itu melihat penyelesaian pembangunan jalan tol trans-Jawa yang akan selesai akhir Desember 2018.

Jalan tol tersebut akan ditawarkan secara umum tidak hanya pada operator tol pelat merah. Ngurah bilang sejumlah investor telah menyatakan ketertarikan terhadap tol milik Waskita Karya. "Kemarin sudah presentasi di pertemuan IMF, itu banyak yang minat," terangnya.

Selain divestasi, terdapat skema lain untuk menutupi utang Waskita Karya. Salah satunya adalah dengan menggunakan piutang proyek turnkey sebesar Rp7,247 triliun.

Ada pula utang yang digunakan untuk proyek pemerintah. Utang tersebut digunakan untuk membayar pembebasan lahan.

Berdasarkan skema yang dibuat oleh Waskita Karya, terdapat piutang senilai Rp44,453 triliun untuk menutupi kredit tunai perusahaan. Piutang tersebut didapatkan dari piutang proyek dan piutang dana talangan pembebasan lahan ke Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Ditambah dengan operasional dan divestasi jalan tol sebelumnya, Waskita Karya akan mendapat Rp61,72 triliun. Angka tersebut senilai dengan total pinjaman yang telah dipakai oleh Waskita Karya.

Yang patut dicermati adalah tren perkembangan debt to EBITDA ratio Waskita yang cukup tinggi, yakni 6,7 kali pada 2017 dari 2,6 kali pada 2013.

Gara-gara tren kenaikan utang BUMN Konstruksi yang sangat tinggi (termasuk Waskita), pemerintah mendapatkan peringatan dari S&P Global. Apalagi, kenaikan utang tersebut juga membuat debt to EBITDA ratio melonjak tinggi.

Bagi investor, rasio utang terhadap EBITDA memberikan informasi mengenai persoalan waktu yang dibutuhkan sebuah BUMN untuk melunasi utangnya. Sementara itu, bagi lembaga pemeringkat kredit, rasio ini dipakai untuk menilai probabilitas gagal bayar utang perseroan.

Selain itu, peringatan juga dirasa perlu mengingat laju pertumbuhan utang dalam 1-2 tahun terakhir yang terbilang cepat, yang membuat neraca keuangan BUMN konstruksi berada di posisi rawan terhadap perubahan ekonomi.

Langkah menjual aset BUMN ke pihak swasta seperti ini banyak menjadi sorotan, karena seharusnya para pemegang kebijakan mampu mengambil terobosan-terobosan yang inovatif dan kreatif untuk menambal utang yang sudah kadung menggunung ketimbang harus menjual aset negara.