Menteri Amran sebut banyak konglomerat lahir dari sektor pertanian

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Menteri Amran sebut banyak konglomerat lahir dari sektor pertanian "Ada 10 konglomerat atau pengusaha besar di Indonesia, nomor satu sampai dengan sepuluh. Delapan konglomerat di antaranya itu berasal dari sektor pertanian." Andi Amran Sulaiman

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai bidang pertanian sangat menjanjikan, sehingga dia mendorong generasi muda tidak meninggalkan pertanian, bahkan harus terjun di pertanian. Hal itu, menurutnya, dibuktikan dengan banyaknya konglomerat yang bergelut di sektor ini.

"Ada 10 konglomerat atau pengusaha besar di Indonesia, nomor satu sampai dengan sepuluh. Delapan konglomerat di antaranya itu berasal dari sektor pertanian," kata Menteri Pertanian saat meninjau Optimalisasi Pemanfaatan Alsintan (OPA) di Desa/Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Selasa (23/05/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Amran lebih lanjut menyatakan bahwa saat ini pemerintah tengah giat menggenjot swasembada pangan dan ekspor hasil pertanian. Untuk hal ini, dia menekankan pentingnya teknologi atau alat mesin pertanian.

"Swasembada pangan dan bahkan ekspor bisa dicapai oleh kami, selain menggunakan teknologi juga mekanisasi. Tujuan mekanisasi, yaitu bisa menekan biaya tanam hingga 40 persen," katanya.

Selain itu, ia mengemukakan, dengan menggunakan mekanisasi, maka indeks per tanamannya bisa meningkat dua kali lipat, atau jika sebelumnya petani hanya bisa menanam satu kali per tahun dapat naik menjadi menanam dua kali per tahun.

Kemudian, Amran mengemukakan tingkat susut panen atau padi yang hilang selama proses panen yang biasanya hilang sekitar 10 persen bisa dikurangi dengan menggunakan teknologi dan mekanisasi, yang juga dapat mempercepat proses tanam.

"Yang tidak kalah pentingnya menggunakan teknologi dan mekanisasi juga untuk mendorong generasi muda turun ke pertanian, dan kami lihat tadi banyak pemuda yang mengoperasikan traktor di sawah ini," tuturnya.

Swasembada daging

Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan keyakinannya target swasembada protein yang sebelumnya diproyeksikan dalam 9 tahun bisa dicapai dalam 5 tahun.

Menurut Mentan, keyakinan itu muncul setelah melihat keberhasilan capaian program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) pada tahun pertama pelaksanaannya.

"Saya bangga dengan peternakan karena Upsus Siwabnya berhasil, jika ini terus ditingkatkan target swasembada protein hewani dalam 9 tahun dapat dipercepat, 5 tahun tercapai," ujarnya beberapa waktu lalu.

Tahun pertama pelaksanaan program, Pelayanan Inseminasi Buatan/IB dari bulan Januari 2017 sampai dengan 13 April 2018 telah terealisasi sebanyak 5.143.398 ekor.

Kebuntingan sapi betina 2.334.794 ekor, dengan kelahiran sebanyak 1.136.454 ekor atau setara Rp7,9 triliun dengan asumsi harga 1 pedet lepas sapih Rp7 juta/ekor.

"Capaian kinerja program Upsus Siwab Tahun 2017 menurut saya sangat fantastis, mengingat investasi program UPSUS Siwab pada tahun 2017 sebesar Rp1,1 triliun," katanya.

Sementara itu, untuk pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia Kementan menargetkan pada tahun 2019 akan ada kelahiran 1.000 ekor. Pada tanggal 12 April 2018 telah lahir kembali sapi Belgian Blue hasil embrio transfer.

Selain upaya-upaya tersebut, akan ditempuh dengan penambahan indukan impor untuk mewujudkan swasembada protein hewani dan Lumbung Pangan Dunia tahun 2045.

Pengadaan indukan impor tahun 2018 direncanakan dialokasikan sebesar 15.000 ekor yang akan didistribusikan pada daerah-daerah yang mempunyai komitken kuat dalam hal keberlanjutan pengembangan ternaknya.

Untuk itu, menurut Amran, pemerintah menaikkan anggaran belanja 2018 di sektor peternakan hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya, yakni menjadi Rp2,2 triliun dari sebelumnya hampir Rp2 triliun.

Ini deretan makanan untuk ringankan gejala PMS
Di balik penyakit musiman usai Lebaran
Suka cita perempuan Arab Saudi bisa mengemudi mulai hari ini
Gus Ipul gunakan ijazah dan gelar palsu?
Kenapa umat Islam tidak dapat bersatu? (tidak seimbang)
Kata ahli soal dinosaurus kebal peluru
Perempuan Cina lebih antusias nonton Piala Dunia
Inikah sinyal kemenangan Khofifah-Emil?
Pendatang baru DKI diwajibkan melapor
Mendambakan keadilan atas sumber daya antariksa
Divonis mati, Aman pikir-pikir
Argentina di ujung tanduk dan permainan buruk Messi
Utang tembus Rp5.028 triliun, BI klaim masih sehat
Putin girang Rusia melaju ke babak knock out
Ahli nilai persepsi masyarakat terhadap rokok elektrik keliru
Fetching news ...