Tjahjo beber tantangan pembangunan Indonesia

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Tjahjo beber tantangan pembangunan Indonesia "Geografis adalah tantangan yang dihadapi, juga bagaimana menggerakkan dan mengoganisir masyarakat," - Tjahjo Kumolo.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengakselerasi pembangunan.

Menurut Tjahjo, banyak perubahan yang terjadi terkait konsep pembangunan Indonesia dari masa ke masa. Misalnya, di zaman Bung Karno,  ada program jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian di era Presiden Soeharto, Gus Dur sampai Presiden Megawati, konsep pembangunannya juga jelas. 

Akan tetapi, begitu pemilihan presiden digelar secara langsung, konsep pembangunan tergantung kepada siapa yang terpilih dalam pemilihan. Artinya, janji kampanye calon presiden terpilih, itu yang jadi program jangka pendek dan menengah pembangunan. Begitu juga dengan program jangka pendek dan menengah di daerah seiring digelarnya pemilihan langsung.

"Begitu pemilihan langsung, janji politik presiden, seorang bupati, seorang gubernur, begitu jadi itu merupakan program jangka pendek, jangka panjang pemerintahan," kata Tjahjo saat hadir sebagai pembicara pada Indonesia Develompment Forum yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Selasa (10/07/2018).

Menurutnya, tidak mudah merumuskan konsep pembangunan yang terintegrasi. Terlebih, Indonesia bukan negara yang secara geografis kecil, tetapi negara kepulauan yang besar dan majemuk, sehingga tantangannya sangat besar.

"Geografis adalah tantangan yang dihadapi, juga bagaimana menggerakkan dan mengoganisir masyarakat," ujarnya.

Karena kondisi tersebut, Bappenas kata dia, mempunyai peran penting dalam merumuskan cetak biru perencanaan pembangunan nasional. Misalnya, seperti apa pembangunan  infrastruktur ekonomi dan sosial yang hendak dilaksanakan, termasuk di dalamnya pembangunan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Bagaimana cara mengurangi angka kemuskinan dan angka pengangguran dalam konteks problem ketimpangan sosial," katanya.

Lanjut Tjahjo, ketimpangan masih terjadi di berbagai sektor. Oleh karena itu, yang terus diupayakan pemerintah adalah membangun konektivitas dan aksesibilitas, sehingga antarwilayah dapat saling mendukung dan tersambung. Dengan begitu, masalah seperti disparitas harga sedikit demi sedikit bisa dikikis. Ia mengaku bersyukur, kini tngginya perbedaan harga mulai bisa disatukan.

"Indonesia itu satu dari Sabang sampai Merauke.  Kini sudah sambung menyambung dengan program yang direncanakan oleh Bapennas, mulai dari  infrastruktur ekonomi dan sosialnya," kata Tjahjo.

Dalam kesempatan itu juga Tjahjo menyorot soal belanja pemerintah daerah yang masih ada yang belum tepat sasaran.  Hal ini menjadi tantangan yang memerlukan perhatian para kepala daerah. Masalah lain yang jadi tantangan pembangunan adalah tumpang tindihnya aturan. Masalah ini cukup menghambat akselerasi pembangunan.

"Indonesia itu negara UU, ada 43 ribu lebih aturan yang melimputi peraturan mulai peraturan pemerintah pusat sampai daerah, belum peraturan camat, belum peraturan kepala desa, salah sedikit ditunggu oleh KPK, oleh kejaksaan oleh polisi. Ini problem," katanya.

Masalah selanjutnya adalah ketakutan para pemangku kebijakan dalam melakukan inovasi. Ada semacam ketakutan, inovasi yang dilakukan berbuah kasus hukum. Padahal inovasi sangat penting dalam mempercepat proses pembangunan.

"Arah kebijakan Bapak Jokowi dengan nawacitanya yang sudah dijelaskan secara detail, Insya Allah tahun ini pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial selesai. Setiap kecamatan harus punya Puskesmas lengkap dengan dokter dan obatnya, rumah sakit rujukan, dengan pelabuhannya, ada sekolahannya, harus bisa terwujud," tuturnya.

Tantangan lainnya, kata Tjahjo, adalah menyangkut bagaimana meningkatkan  kualitas dan ketersediaan pelayanan kesehata, contohnya masalah gizi anak.

"Jadi saya kira kuncinya ada pada masalah perencanaan anggaran. Mohon perencanaan anggaran juga harus dilihat secara detail, programnya apa, dan memastikan program itu bisa berjalan," kata dia.

Intinya program pembangunan itu katanya harus fokus. Ia pun kemudian bercerita saat berkunjung ke perbatasan awal- awal jadi Mendagri. Di sebuah wilayah perbatasan, ia temui terminal bis yang megah tapi terbengkalai.  Artinya, dalam membangun terminal itu tak fokus, tidak direncanakan dengan matang dan akhirnya terminal itu sia-sia.

"Sebuah waduk di Jawa Barat, yang  meletakkan batu pertama waktu itu jaman presiden pertama Bung Karno, tapi baru diselesaikan, dialirkan airnya oleh Pak jokowi. Jadi antara perencanan, dan  memastikan program ini selesai atau tidak penting. Jangan pokoknya bangun dulu. Contoh Hambalang itulah, kusut itu," kata Tjahjo.

PKPI yakin dapat suara 4 kali lipat di 2019
PAN nilai kepala daerah tak perlu jadi timses
Inggris tertarik masukkan Bali dalam Second Cities Programme
\
Mizan luncurkan Seri Teroka di ajang AICIS
Fahri nilai KPK sudah jadi lembaga politik
Partai Berkarya akan kembangkan program-program Soeharto
Fraksi PPP nilai anjloknya Rupiah akibat perang dagang AS
Kubu Jokowi nilai nama tim kampanye kubu Prabowo terlalu abstrak
Tujuh kepala daerah Sumatera Barat dukung Jokowi-Ma'ruf
Ma'ruf Amin bakal kampanye di wilayah suara terendah Jokowi
Anggota Partai Komunis yang ditangkap tak terkait politik Indonesia
Alasan cegah korupsi, politisi Gokar dukung kenaikan anggaran LKPP pemerintah
Diputusin saat lagi sayang-sayangnya, harus bagaimana?
Fahri beber alasan Kwik Kian Gie tak cocok di kubu Jokowi
Fetching news ...