Ajarkan toleransi pada anak sejak usia dini

REPORTED BY: Andika Pratama

Ajarkan toleransi pada anak sejak usia dini

Maraknya berita hoaks dan penyebaran ujaran kebencian di media sosial membuat orang tua harus mewaspadai setiap informasi yang diterima oleh anak-anak.

Orang tua harus mengajarkan sikap saling menghormati dan menghargai orang lain bukan malah memperkenalkan sikap intoleransi. Di usia yang masih sangat muda, anak tidak mampu menolak informasi yang diberikan orang dewasa.

Namun, ujaran kebencian, ucapan-ucapan bernada rasisme, menghasut, tindakan-tindakan anarkis akan direkam di memori otak anak-anak hingga mereka tumbuh dewasa.

Menjadi tanggung jawab setiap orang tua untuk mengajarkan hal-hal positif terutama dalam hal menghormati antar umat manusia. Keberagaman yang ada di Indonesia menjadi pembelajaran bagi anak-anak untuk saling menghormati serta menciptakan kehidupan sosial yang aman dan damai.

Lingkungan rumah dan sekolah memegang peranan penting dalam mengembangkan toleransi beragama. Jika lingkungan rumah atau sekolah yang ditemui anak bersifat heterogen maka anak dapat memahami perbedaan agama dan kebiasaan yang dilakukan masing-masing agama.

Mengajarkan sikap toleransi sejak dini, anak-anak akan menyerap hal-hal positif dan menjadikan toleransi sebagai landasan kehidupan mereka dalam bermasyarakat nanti.

Ada beberapa tips untuk mencegah toleransi pada anak-anak:

1. Perkenalkan keberagaman

Keberagaman merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa. Sang Pencipta menciptakan perbedaan agar manusia bisa saling menghormati. Oleh karena itu, anak-anak harus diajarkan sikap saling menghargai. Anak-anak juga diajarkan untuk tidak memaksakan kehendak kepada orang lain.

2. Orangtua jadi panutan

Ketika mengajarkan toleransi, orangtua hendaknya menjadi panutan bagi anak-anak. Mengajarkan sikap toleran bisa dimulai dari keluarga. Anak bisa diajarkan saling kasih sesama saudara.

3. Komentar positif

Anak-anak akan selalu bertanya kepada orangtuanya ketika menonton tayangan di televisi. Ketika ditanya oleh si kecil, Anda harus memberikan komentar positif di setiap tayangan.

4. Netral

Anda harus menjadi pihak yang netral ketika ada pertikaian. Tunjukkan kepada anak-anak jika Anda sangat menghargai perbedaan.

5. Izinkan anak bermain dengan teman sebaya

Sikap toleransi bisa tumbuh dengan sendirinya. Untuk itu, izinkan anak-anak bermain dengan teman sebaya yang berasal dari berbagai latar belakang. Anda tidak perlu khawatir ketika anak hidup di tengah-tengah keberagaman

Setiap anak tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari orangtua, suku, agama, dan bangsa apa. Semua itu adalah hak prerogatif Tuhan yang Maha Kuasa. Jadi, anak-anak diharapkan bisa melihat perbedaan yang ada di lingkungan sekitar.

6. Cermat memilih mainan, buku, dan musik.

Ingatlah pengaruh media sangat besar dalam membentuk perilaku anak. Fokuskan pembicaraan dengan anak mengenai pandangan negatif (stereotype) yang tidak adil dan mungkin terpapar di media seperti film dan cerita-cerita pada buku.

PKPI yakin dapat suara 4 kali lipat di 2019
PAN nilai kepala daerah tak perlu jadi timses
Inggris tertarik masukkan Bali dalam Second Cities Programme
\
Mizan luncurkan Seri Teroka di ajang AICIS
Fahri nilai KPK sudah jadi lembaga politik
Partai Berkarya akan kembangkan program-program Soeharto
Fraksi PPP nilai anjloknya Rupiah akibat perang dagang AS
Kubu Jokowi nilai nama tim kampanye kubu Prabowo terlalu abstrak
Tujuh kepala daerah Sumatera Barat dukung Jokowi-Ma'ruf
Ma'ruf Amin bakal kampanye di wilayah suara terendah Jokowi
Anggota Partai Komunis yang ditangkap tak terkait politik Indonesia
Alasan cegah korupsi, politisi Gokar dukung kenaikan anggaran LKPP pemerintah
Diputusin saat lagi sayang-sayangnya, harus bagaimana?
Fahri beber alasan Kwik Kian Gie tak cocok di kubu Jokowi
Fetching news ...