Menolak lupa Rene Louis Conrad, Mahasiswa ITB yang dibunuh anak jenderal

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Menolak lupa Rene Louis Conrad, Mahasiswa ITB yang dibunuh anak jenderal Sudah 48 tahun berlalu, kematian Rene terlupakan. Tersangka sesungguhnya dari kematian Rene tak pernah terekspos karena anak seorang jendral.

Di tengah pesta demokrasi yang sedang berjalan di Indonesia, kita mungkin lupa bahwa negara ini pernah memiliki masa-masa suram di mana kebebasan berekspresi, berpendapat, dan berekplorasi tak semudah sekarang.

Tak sedikit mahasiswa tak berdosa yang diculik dan ditembak mati oleh aparat keamanan yang sejatinya tugasnya melindungi warga negara. Salah satunya Rene Louis Conrad, Mahasiswa ITB yang dibunuh oleh taruna polisi anak seorang jendral yang hingga kini keberadaannya tak pernah diekspos, dan tak pernah menerima ganjaran atas perbuatannya.

Seperti yang disinggung oleh Rum Aly dalam bukunya ‘Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter’, pada tahun 1970, kesenangan akan rambut gondrong yang bagi kaum muda itu terkait dengan ekspresi kebebasan mereka sebagai pribadi, terusik tatkala Kepolisian wilayah Bandung entah atas dasar hukum apa menjalankan serangkaian razia rambut gondrong di jalan-jalan pusat keramaian Bandung.

Pelaksana razia adalah Taruna-taruna Tingkat IV Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) Kepolisian waktu itu kampus Akabri Kepolisian masih di Sukabumi. Tanpa ampun gunting mereka beraksi memotong rambut korban razia walaupun para korban ini memprotes. Di antara para korban, adalah mahasiswa dan asisten dosen ITB serta sejumlah mahasiswa ABA (Akademi Bahasa Asing) Bandung. Hubungan militer-mahasiswa pun menegang.

Polemik terjadi sejak pertengahan Agustus hingga September 1970. Dalam suatu pernyataan yang ditandatangani oleh Ketua Umum DM ITB Sjarif Tando dan Sekertaris Umum Bambang Warih Kusuma, (26 September 1970) mengecam pengguntingan rambut itu sebagai “pemerkosaan hak-hak azasi perseorangan”.

Tindakan itu dinilai tanpa dasar-dasar hukum yang sah dan alasan-alasan kuat yang masuk akal. Dikerahkannya taruna-taruna Akabri untuk hal-hal yang semacam itu, disebut sebagai “pendidikan yang akan menyesatkan tugas-tugas kepolisian yang sebenarnya”.

Senat Mahasiswa ABA memprotes cara pemberantasan rambut gondrong yang disamakan dengan cara pemberantasan penjahat atau kriminal. Padahal, menurut mereka rambut cepak juga bisa disebutkan sebagai tanda kepatuhan dan ketaatan yang tolol dari para taruna.

Dari segi kematangan ilmu dan intelektual, sebenarnya para taruna itu tak bisa dibandingkan dengan para mahasiswa yang untuk sebagian sudah di atas tiga tahun duduk di perguruan tinggi. Taruna-taruna itu bagi para mahasiswa hanyalah robot-robot akademi kepolisian.

Dan memang perlu dicatat, angkatan yang akan lulus tahun 1970 ini sehingga disebut Angkatan 1970, berdasarkan tahun kelulusan adalah angkatan pertama produk Akabri Kepolisian yang diintegrasikan dari semula sebuah akademi kepolisian murni di Sukabumi menjadi akademi dengan tambahan materi kemiliteran.

Kepolisian sendiri pada saat itu juga disejajarkan sebagai satu angkatan dalam jajaran Angkatan Bersenjata dengan penamaan Angkatan Kepolisian Republik Indonesia yang dipimpin oleh seorang Panglima Angkatan Kepolisian.

Ketegangan dan suasana panas yang meningkat, coba didamaikan oleh para petinggi kepolisian dan militer dengan berbagai cara, lewat serentetan pertemuan dengan kalangan pimpinan perguruan tinggi se Bandung.

Sebuah inisiatif dijalankan oleh petinggi kepolisian di Bandung antara lain dengan Ketua Dewan Mahasiswa ITB waktu itu Sjarif Tando. Untuk mencairkan permusuhan antara mahasiswa dan taruna, dirancang sebuah kegiatan bersama.

Tanggal 6 Oktober 1970 diselenggarakan pertandingan sepakbola persahabatan di lapangan sepakbola di tengah kampus ITB. Salah seorang panitia penyelenggara pertandingan adalah mahasiswa ITB Teuku Lukman Azis, putera seorang jenderal polisi yang menjabat Wakil Panglima Angkatan Kepolisian, Teuku Azis.

Tim Taruna Akabri Kepolisian diungguli 2-0 oleh tim mahasiswa ITB. Tapi yang paling tak bisa diterima para taruna ini ialah ‘kreativitas’supporter ITB. Mahasiswa Bandung, ITB khususnya, memang dikenal paling ahli dalam bersupporter ria. Ungkapan-ungkapan mereka lucu-lucu, tetapi sekaligus pedas dan mengkili-kili sampai ke ulu hati.

Bagi anak Bandung, gaya supportasi seperti itu hanyalah hal yang biasa saja, tapi tidak bagi para taruna yang terbiasa dengan hirarki dan disiplin gaya tentara.

Maka, terjadi lah bentrokan ketika provost-provost Taruna coba menertibkan penonton dengan sabetan-sabetan koppel rim. Terjadi tawuran. Dalam tawuran itu sudah terdengar berkali-kali suara tembakan. Para taruna rupanya membawa senjata yang digunakan untuk melepaskan tembakan ke atas. Tapi senjata-senjata itu berhasil direbut oleh beberapa Taruna Akabri sendiri.

Setelah tawuran berhasil diredakan oleh para mahasiswa dan Resimen Mahasiswa ITB dan provost taruna serta anggota Brimob yang bertugas di sekitar kampus, para taruna digiring menaiki truk dan bus mereka untuk meninggalkan kampus. Para mahasiswa lalu berpulangan. Ternyata para taruna itu tidak langsung pulang. Mereka memang keluar dari halaman kampus, namun kemudian berhenti di jalan Ganesha depan kantin Asrama F mahasiswa ITB.

Pada petang yang naas itu, seorang mahasiswa ITB yang mungkin tidak tahu insiden di lapangan sepakbola karena tidak menyaksikan sampai selesai dan mengikuti suatu kegiatan lain di kampus yang luas itu, melintas dengan sepeda motor Harley Davidson (HD), berboncengan dengan seorang temannya, di samping truk dan bus para Taruna. Ya dia adalah Rene Louis Conrad.

Ada yang meludah dari atas kendaraan dan mengenai Rene. Rene lantas berhenti dan menanyakan siapa yang meludahi dirinya.

“Kalau berani turun,” ucapnya kala itu.

Tapi yang diperolehnya adalah jawaban makian dan kemudian para taruna berloncatan turun dari kendaraan lalu melakukan pengeroyokan atas diri Rene.

Menurut kesaksian orang-orang yang ada di sekitar tempat itu, terlihat jelas bagaimana Rene dihajar bagaikan bola oleh para taruna, ibarat adegan koboi Itali yang banyak diputar di bioskop-bioskop waktu itu.

Beberapa mahasiswa yang berada di kejauhan menyaksikan penyiksaan atas Rene dan kawan yang diboncengnya. Kalau sang kawan berhasil lolos, Rene sebaliknya tidak bisa melepaskan diri, karena rupanya memang dia yang dijadikan sasaran utama.

Ketika para mahasiswa mencoba mendekat mereka dihalangi oleh petugas P2U (semacam polisi militer di lingkungan kepolisian) dan Brimob (Brigade Mobil) bersenjata dengan sangkur terhunus, yang memblokkir gerbang kampus.

Beberapa mahasiswa yang coba menerobos, telah dipukuli dan dipopor, sehingga dua diantaranya luka dan terpaksa dibawa ke RS Borromeus yang terletak di arah Timur kampus ITB.

Di depan asrama F penganiayaan atas diri Rene terus berlangsung di tengah-tengah rentetan letusan senjata. Peluru-peluru tidak lagi ditembakkan ke atas, melainkan dilakukan secara mendatar dan diarahkan antara lain ke asrama mahasiswa ITB. Di dinding asrama terdapat deretan lubang bekas peluru, slongsong peluru berserakan.

Rene tampak roboh di tengah hiruk pikuk. Waktu itu tidak diketahui kapan persisnya ia terkena peluru. Namun menurut pemeriksaan kemudian, diketahui bahwa peluru berasal dari arah atas, yang diperkirakan oleh Mingguan Mahasiswa Indonesia berasal dari atas bus atau truk.

Rene yang bersimbah darah, roboh. Ternyata kemudian, ia tewas tak terselamatkan. Seorang mahasiswa ITB bernama Ganti Brahmana, menyaksikan ada sesosok tubuh yang diseret pada kedua belah tangannya dan kemudian dilemparkan ke bagian belakang sebuah jip Toyota bernomor polisi 008-425 (semula disangka jip Nissan). Itulah yang terakhir Rene terlihat di tempat kejadian.

Setelah penembakan, tubuh korban yang waktu itu belum diketahui masih hidup atau sudah meninggal– hilang tak diketahui ke mana setelah dibawa dengan jip. Maka para mahasiswa melakukan pencarian ke mana-mana, ke berbagai rumah sakit yang ada di kota Bandung dan sekitarnya.

Ganti Brahmana, salah satu mahasiswa yang berinisiatif mencari Rene, segera menemui AKBP (Ajun Komisaris Besar Polisi) Tjutju Sumirat pejabat Komandan Kobes (Kota Besar) 86 Bandung yang kebetulan sedang berada di kampus ITB. Bersama perwira polisi itu, Brahmana mencari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Di Rumah Sakit Borromeus mereka hanya menemukan dua mahasiswa yang luka karena terkena hajaran dalam insiden di depan kampus tadi. Dengan lega, AKBP Tjutju Sumirat berkata “Ini kan tidak apa-apa? Cuma luka-luka sah”.

Tapi Brahmana yang sangat yakin ada korban lainnya, karena ia menyaksikan adanya tubuh dibawa pergi dengan jip, bersikeras melanjutkan pencarian dan mendesak perwira polisi tersebut untuk mencari ke Kobes 86.

Setelah itu, Rene akhirnya ditemukan dalam mengenaskan. Di sekujur tubuhnya penuh dengan luka, dan darah dimana-mana. Menurut sebagian pihak, andaikan Rene segera dibawa ke dokter, kemungkinan ia tidak harus meninggal.

Tewasnya Rene membuat suasana kampus di Bandung semakin panas dan mencekam. Di mana-mana terjadi demonstrasi besar-besaran. Kendaraan-kendaraan umum dicegati mahasiswa dan bila ditemukan ada tentara di dalamnya, mereka akan diturunkan lalu diusir. Konon markas polisi di Jalan Dago menjadi kosong melompong karena semua polisi pada menyembunyikan diri. Panser-panser yang dikerahkan untuk menghentikan demonstrasi pun dibuat tak berdaya dalam kepungan mahasiswa.

Belakangan diketahui bahwa yang menembak Rene adalah seorang taruna AKABRI Kepolisian. Namun karena taruna itu konon adalah anak seorang jenderal, maka yang dikorbankan adalah seorang anggota Brimob, Brigadir Polisi Dua Djani Maman Surjaman.

Pada saat pengadilan sang Brimob tersebut, mahasiswa malah melakukan pembelaan terhadap sang Brimob. Mereka kemudian meminta pengacara kawakan Adnan Buyung Nasution untuk menjadi pengacaranya.

Selihai apapun Bang Buyung, ia tak berdaya menghadapi liciknya kekuasaan Orde Baru. Sidang Mahkamah Militer Priangan-Bogor pada Desember 1970 tetap memvonis Djani dengan hukuman 5 tahun 8 bulan penjara (tetapi setelah melakukan banding Mahkamah Kepolisian Tinggi 13 April 1972 memberikan vonis berbeda yaitu 1 tahun 6 bulan). Usai dipenjara, Djani Maman Surjaman kembali bertugas seperti biasa di Kepolisian RI.

Sudah 48 tahun berlalu, kematian Rene terlupakan. Tersangka sesungguhnya dari kematian Rene tak pernah terekspos karena anak seorang jendral. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa negeri ‘Tanah Surga’ katanya, pernah terjadi ketidakadilan yang menewaskan anak bangsa tak berdosa.

BPN yakin sosok Sandiaga Uno mampu lampaui elektabilitas petahana
Impor bawang putih dinilai bakal turunkan elektabilitas Jokowi
Dilaporkan ke Bawaslu, Ma'ruf Amin: Itu tidak tepat
Prabowo-Sandi akan kumpulkan ketum partai dan tokoh agama
Tak serahkan dana kampanye, 11 Parpol digugurkan di tingkat daerah
DPR soroti hak politik narapidana dan warga binaan
Fadli Zon: Wiranto super ngawur
Prabowo kampanye di Makassar, Sandiaga di Jawa Tengah
IHSG ditutup menguat di level 6.501
Mayoritas pemilih tidak tertarik janji capres
Usai Romy dicokok KPK, PPP yakin bangkit
Kubu Jokowi akan yakinkan swing voters di kampanye terbuka
Komnas HAM sebut pemerintah umbar janji ke korban gempa Sulteng
Daftar kesalahan berkirim email resmi
PDIP ingin Golkar rebut posisi kedua dari Gerindra
Fetching news ...